Catatan tentang Sahabat .....
Ini cerita tentang sahabatku, sebuah kisah pencarian makna KEHIDUPAN.
untuk lebih memaknai kisah ini, kugambarkan sedikit latarbelakang keluarganya.
Saat itu akhir Maret 2006,
sahabatku
telah menikah kurang lebih 2 tahun dengan seorang wanita cantik yang memiliki pribadi yang sangat santun
dan sedang mengandung 1 bulan anak pertama mereka
. Sahabatku bekerja di sebuah kantor konsultan manajemen dan pajak dan tentunya banyak berkenalan dengan pengusaha-pengusaha mulai kelas teri sampai kelas kakap. Penghasilannya saat itu sekitar Rp. 5 jutaan sampai 6 jutaan sebulan, dengan perincian Rp. 2 jutaan gaji dari kantor selebihnya adalah penghasilan sampingan sebagai "konsultan gelap" karena tanpa sepengetahuan kantor atau boleh dikatakan sembunyi-sembunyi.
Mengapa sembunyi-sembunyi????? Begini, aturan kantor melarang karyawannya menggeluti pekerjaan diluar kantor yang sama dengan bidang usaha kantor. Namun karena adanya penawaran maka hal tersebut sulit dihindari. Bukan hal aneh jika seorang pengusaha mempunyai banyak perusahaan ataupun jenis usaha, jadi jika mereka telah mempercayakan satu perusahaan untuk dimanajemen oleh kantornya maka mereka bergantung pada karyawan tersebut. Setiap karyawan dipercayakan mengelola 5 sampai 10 perusahaan selama mereka bekerja disana, jadi secara pribadi mereka dekat dengan pengusaha tersebut. Dan dari kedekatan itulah sebuah simbiosis mutualisme terjalin.
Simbiosis ini terjalin harmonis karena saling menguntunkan. Disatu sisi pengusaha mengeluarkan biaya konsultan lebih kecil dibandingkan jika semua perusahaan mereka dijadikan klien kantor.Mereka membayar para karyawan kantor konsultan tersebut hanya 50% dari fee yang seharusnya. Disisi lain para karyawan tersebut memperoleh tambahan penghasilan yang cukup besar.Itulah yang terjadi sekian tahun hingga PERUBAHAN besar terjadi pada sahabatku itu. Apakah perubahan itu?????
Semua berawal dari renungan sahabatku, selalu terbersit tanya dalam hatinya tentang penghasilan yang diperolehnya selama ini, apakah itu HALAL atau HARAM???.
Sudah banyak orang yang dijadikan tempat bertanyanamun hampir semuanya menjawab bahwa itu HALAL karena hasil keringat sendiri, namun jawaban-jawaban tersebut tetap tidak memuaskan hati dan tetap meninggalkan rasa bimbang karena TANYA tersebut selalu ada di hati dan pikirannya. Terlebih disuatu Shubuh usai shalat, sahabatku menonton ceramah di TV tentang ANAK. Sang Uztad menjawab pertanyaan dari audiensnya, begini pertanyaannya "Pak Uztad, mengapa banyak anak-anak dari keluarga kaya, keluarga pejabat dan terpandang menjadi nakal dan berperilaku tidak baik dibanding dari anak-anak keluarga sederhana?". Pak uztad menjawab sambil mengutip ayat Alqur'an yang kurang lebih sebagai berikut "janganlah pernah memberi makan keluargamu dari sumber-sumber yang tidak HALAL" dan dilanjutkan dengan penjelasan bahwa untuk menjadikan keluarga dan khususnya anak-anak kita menjadi orang baik dan bermanfaat maka jangan pernah memberi makan kepada mereka dari sumber-sumber yang tidak jelas halal atau haram, karena akan menjadi darah dan daging ditubuhnya yang cenderung membuat mereka jadi NAKAL.
Penjelasan ini makin membuat sahabatku gundah, hingga membuatnya mengadu menanyakan langsung kepada Sang Khalik. Disuatu malam saat tahajud dengan berurai air mata, sahabatku memanjatkan doa dan tanya kepadaNYA, Yaa Allah, jika selama ini penghasilan yang kuterima dari tempatku bekerja ENGKAU katakan HALAL maka jadikanlah kantorku itu sebagai tempatku mencari rezeki hingga akhir hayatku tapi jika ENGKAU katakan bahwa itu HARAM maka tunjukkanlah kepadaku TEMPAT KERJA buat mencari rezekiMU yang HALAL.
Selanjutnya hari berjalan seperti biasanya hingga disuatu pagi di bulan April 2006, lewat rutinitas, sahabatku membaca koran. Terpampang sebuah lowongan kerja sebuah bank yang baru akan buka di kota tersebut. Seluruh kriteria yang diinginkan bank tersebut dimiliki oleh sahabatku. Maka diguntinglah iklan tersebut dan bersama seorang rekan kerjanya mengirimkan CV ke alamat kantor wilayah bank tersebut di Makassar, dengan menitipkannya pada rekannya buat mengeposkannya.
Dua minggu kemudian tibalah panggilan test untuk sahabatku dan rekan kerjanya di kota mereka, dan singkat cerita sahabatku lolos test dan dinyatakan diterima di bank tersebut.Namun jumlah SALARY yang ditawarkan hanya Rp. 2.000.000,- jauh banget perbedaannya dibanding penghasilannya saat itu. Maka disampaikanlah hal tersebut kepada sang istri sebelum menandatangani offering letter dan sang istri menyerahkan semuanya kepada sahabatku ini buat mengambil keputusan, baginya berapapun yang diberikan oleh suaminya itulah rezeki terbaik buat keluarganya. Sang sahabat lalu meyakini bahwa inilah JAWABAN atas doa dan pertanyaannya kepada SANG KHALIK, dan tanpa ragu sedikitpun serta dengan ucapan Bismillahirahmanirahim ditandatanganilah OL tersebut.
Namun cobaan tidak langsung selesai saat itu, masalahnya kantor tempat bekerjanya selama ini tidak bersedia menerima pengunduran diri sahabatku ini, hal ini selain disebabkan karena sahabatku merupakan karyawan teladan juga karena semua jenis perusahaan yang ditanganinya tidak dikuasai oleh rekan kantor yang lain, juga diperlukan waktu buat menjelaskan semua segala seluk beluk mengenai perusahaan2 tersebut sementara bank tersebut mengharuskan untuk melakukan TRAINING di awal bulan Mei 2006 di kota tempat kanwil bank tersebut berada.
Singkat cerita, dengan tanpa pesangon dan Surat Referensi maka diterimalah pengunduran diri sahabatku dan bekerjalah di bank tersebut dengan perjanjian bahwa akan bersedia menerima telpon dari rekan kerja jika ada hal yang perlu dijelaskan mengenai perusahaan yang pernah ditanganinya.
Saat ini sudah 6 tahun lamanya sahabatku bekerja di bank tersebut, dengan jabatan yang cukup tinggi dan salary kurang lebih sama dengan penghasilan saat di kantor konsultan dulu. Mereka hidup dalam kesederhanaan namun terlihat sangat menikmati hidup mereka, rukun dan selalu bahagia. 6 tahun lamanya sahabatku bersama istri dan sepasang anaknya meniti hari, memulai segalanya dari NOL lagi dalam kesederhanaan. Namun bagi mereka 6 tahun itu adalah TAHUN TAHUN PERUBAHAN dalam cara berpikir dan cara pandang terhadap hidup, yang membuat mereka makin YAKIN bahwa TUHAN telah mengatur semuanya dengan sebaik-baiknya, bahwa HIDUP itu SEDERHANA bukan diukur dari banyaknya UANG yang dimiliki, bukan berdasarkan HITUNGAN MATEMATIKA tapi lebih kepada CARA MENSYUKURI segala rezeki yang diberikan kepada mahklukNYA.
HIDUP ITU SEDERHANA, CUKUP DENGAN MENSYUKURI SEGALA REZEKI YANG TELAH DIBERIKAN OLEH ALLAH SWT DAN SEDIKIT MENGEKANG KEINGINAN.